Sekelumit resah menyapaku,
Memaksaku melalui lorong kelam kehidupan,
Aku terdengar satu suara yg sudah lama menyeruku,
Membisikkan sesuatu yg nuraniku enggan mengiyakannya,
Batinku berjuang menepis bisikan itu,
Namun semakin ku tepis pantulan suara itu,
Semakin menebal ia membias,
Meresap perlahan-lahan ke kerajaan hatiku,
Lalu aku rebah dalam pelukan nafsu,
Sudah sekian lama ia menantiku ke dalam dakapannya,
Kini terlakar senyuman sinis di bibirnya,
Meraikan lenaku di dada kenistaan.
Aku terbuai oleh janji-janji manis yg ditabur,
Hakikat kebahagiaan yg sebenar....kononnya,
Mencorakkan sutera putih kehidupan yg diamanahkan Ilahi,
Dengan warna-warna kotor maksiat dan keingkaran padaNya,
Sengaja mencicirkan warna yg seharusnya dicoret,
Ketaatan dan kecintaan pada Tuhan Yg Esa.
Hairan...aku bisa tertipu oleh kata-kata tidak berbisa,
Namun tersirat berjuta muslihat,
Umpama lilitan sawa yg membelit,
Sukar untuk kuleraikan,
Lalu bendera putih yg kukibarkan,
Menyatakan tewas di tengah perjuangan.
Fitrah insan memang begitu,
Lelah menemani sepanjang perjalanan,
Gundah menerpa sanubari,
Jiwa dihimpit duka sengsara,
Aku jejaki tasik hatiku,
Tandus...tidak terisi panorama indah,
Umpama wilayah tidak bertuan,
Kosong tanpa jirusan kasih Yg Maha Pengasih.
Ahh...sungguh terseksa batinku,
Bukan 'bahagia' ini yg kucari selama ini,
Aku inginkan kedamaian,
Aku dambakan ketenangan yg hakiki,
Aku rindukan buaian kasih dari Tuhan,
Biar aku lena dalam dendangan irama cinta Si Dia,
Takkan ku resah saat beradu di ribaan kasihNya.

0 comments:
Post a Comment